Peningkatan Mutu Lulusan Perguruan Tinggi Dalam Menghadapi Era Disrupsi

 

Oleh, Ainur Alam Budi Utomo

Ternyata tak mudah jadi penerus bangsa yang berdaya guna. Apalagi jadi pemimpin yang cerdas dan solutif terhadap problematika bangsa. Peran kaum intelektual sebagai pilar bangsa telah kehilangan identitasnya dikarenakan perebutan kekuasaan dan kepentingan golongan. Lantas terjadilah paradoks, intelektualitas tak seindah maknanya.

Kini kaum pelajar Indonesia memang banyak dituntut untuk menjadi kader intelektual bangsa yang sesungguhnya. Nasionalisme dan kesalehan individu pada kaum intelektual merupakan modal utama yang paling kokoh bagi pilar-pilar bangsa guna menjaga kekuatan mereka untuk mengangkat martabat dan kedaulatan bangsa.

Indonesia sebagai negara yang bermayoritas penduduk muslim terbesar di dunia mestilah bercermin pada sejarah bangsanya. Pasang surut yang terjadi pada sejarah bangsa merupakan realita bagi kaum intelektual saat ini untuk memperbaiki bangsanya, dan itu dimulai dari setiap individu masing-masing agar kemudian terjadinya kesalehan individu. Karena dengan itu semua akan dibangun komunitas masyarakat, institusi-institusi dan lembaga-lembaga yang maju, kejahatan akan terhenti dan negara akan aman.

Lantas, apakah itu terwujud sekarang? Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini di lingkungan kaum intelektual di Indonesia belum membuktikan hal itu, buktinya kepentingan pribadi atau kelompok demi meraih kekuasaan malah menjamur, dan pelakunya siapa lagi kalau bukan mereka. Di samping itu, kesalehan individu pun hanya terlihat sebatas pada menjalankan perintah agama tanpa menggali makna dan fungsi ajaran agama lebih mendalam dan lebih jauh serta menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ambillah contoh, masih banyak yang menjalankan shalat, dengan menganggapnya cukup menjadi urusan pribadi dan alfabeta kewajiban, tanpa diteruskan bagaimana shalat dapat mencegah keburukan dan kemaksiatan. Haji pun demikian, banyak yang melakukan ibadah haji, namun hanya berhenti sebatas menjalankan kewajiban tanpa memahami makna ibadah tersebut yang berkaitan dengan persamaan derajat kecuali dengan takwa dan makna solidaritas antar sesama. Oleh karenanya tidak mengherankan apabila di era disrupsi sekarang ini terjadi merebaknya kriminalitas, ketimpangan ekonomi bahkan peningkatan pengagguran. Anehnya, masyarakat yang mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi, tidak sedikit dari mereka yang mengaggur seperti yang disampaikan oleh Menteri Nasir pada kegiatan PKKMB Universitas Buana Perjuangan Karawang tanggal 3 September 2018.

Menurut Menteri Nasir juga, Indonesia akan mendapat anugerah bonus demografi dalam rentang waktu 2020-2030, yang mencapai puncaknya pada tahun 2030. Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengatakan bahwa perguruan tinggi memiliki peran yang sangat strategis untuk menyambut bonus demografi dan mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia agar mampu bersaing di era global.

Penyampaian menteri Nasir di atas, dapat di analisis menurut penulis bahwa di era disrupsi sekarang ini, peran kaum intelektual harus mempersiapkan diri sedini mungkin. Khususnya Pendidik (guru/dosen). Tentunya, perguruan tinggi juga harus menyiapkan mutu pendidikan dan strategi yang berkualitas, sehingga dapat mempersiapkan lulusannya dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan di era Revolusi Industri  4.0,” atau dikenal dengan era disrupsi sehingga kedepannya juga akan menggerakan perekonomian Indonesia, dan ketimpangan ekonomi seperti pengangguran yang selama ini dikhawatirkan akan menurun secara perlahan.

Salah satu strategi untuk meningkatkan mutu lulusan perguruan tinggi adalah dimulai dengan meningkatkan kompetensi pendidik sesuai bidangnnya serta bertanggungjawab secara paripurna. Dalam perspektif pendidikan islam di perguruan tinggi baik umum ataupun islam menjadi peran utama dalam mendidik calon sarjana yang berkualitas. Paling tidak dalam hal ini, pendidik (dosen/guru) memperhatikan aspek pembelajaran, karena selama ini perguruan tinggi umum ataupun agama lebih banyak berkiblat kepada model pendidikan barat, padahal dalam dunia pendidikan islam, khazanah model pendidikan sangantalah kaya. Sebagai contoh kecil dalam konteks pendidik, Muhammad Jawaad Ridha mengemukakan bahwa ada delapan aspek yang harus diperhatikan sebagai seorang pendidik, yaitu :[1]

  1. Menyayangi peserta didik seperti perlakukan orang tua terhadap anaknya;
  2. Mengikuti tuntunan Rasulullah, artinya mengajar tidak hanya untuk mencari upah;
  3. Tidak mengabaikan tugasnya kepada peserta didiknya, seperti memberikan arahan;
  4. Mencegah peserta didik untuk berakhlak tercela;
  5. Seorang pendidik tidak boleh meremehkan disiplin ilmu lainnya;
  6. Seorang pendidik menyampaikann materi pengajaran sesuai pemahaman peserta didik;
  7. Seorang pendidik terhadap peserta didik yang berkemampuan rendah sesuai dengan kemampuannya; dan
  8. Seorang pendidik harus mau mengamalkan ilmunya

 

Dari delapan aspek diatas, maka bisa dijadikan sebagai salah satu solusi awal dalam peningkatan mutu pendidik sehingga berpengaruh besar terhadap mahasiswa sebagai lulusan perguruan tinggi yang bermutu di era disrupsi yang penuh dengan kompetisi. Selain itu juga lulusan perguruan tinggi hendaknya memastikan dirinya memiliki kompetensi dan keahlian tertentu dan siap untuk berkompetisi secara positif dalam dunia kerja serta dapat menciptakan peluang kerja yang belum ada sehingga tidak terfokus hanya mencari pekerjaan yang ada. Oleh karenanya sebagai penutup, sudah saatnya memulai bagi generasi kaum intelektual Indonesia di era disrupsi saat ini seperti pendidik (guru/dosen) terpanggil untuk menjadi pilar perubah bangsa. Kerusakan yang sudah terjadi di setiap lini kehidupan bangsa, cukuplah bagi mereka untuk menjadi pelajaran yang berharga. Seyogyanya bagi mereka bersatu dalam cita-cita, seia-sekata, searah setujuan dan pikiraan-pikiran mereka seiring. Inilah kunci keberhasilan yang dirindukan oleh para pendiri bangsa terdahulu pada generasi intelektual sekarang.

[1]Muhammad Jawwad Rida, Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam Prespektif Sosiologis-Filosofis, (Tiara   wacana : Yogyakarta, 2002) hal. 129-132.