Jl.HS. Ronggo Waluyo, Telukjambe - Karawang

Dua Tingkatan Manusia: Mujtahid dan Mukallid

خطبة الجمعة

كتبها أينور عالم بودي أوطومو

الخطبة الأولى

انّ الحمد لله نحمده و نسستعينه ونستهديه ونشكره ونتوب اليه, ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا, من يهد الله فلامضلّ له ومن يضلل فلاهادي له. وأشهد أن لااله الاّ الله الواحد الأحد الفرد الصّمد الّذي لم يتّخذ صاحبة ولا ولدا, جلّ ربّي لايشبه شيئا ولايشبهه شيء ولايحلّ في شيء ولاينحلّ منه شيء, جلّ ربّي تنزّه عن الأين والكيف والشّكل والصّورة والحدّ والجهة والمكان, ليس كمثله شيء وهو السّميع البصير.

وأشهد أنّ سيّدنا وحبيبينا وعظيمنا وقائدنا وقرّة أعيننا محمّدا عبده ورسوله وصفيّه وحبيبه. الصّلاة والسّلام على سيّدنا محمّد النبيّ الأمّيّ الّذي علّمنا الحضارة وأرشدنا الى مافيه خيرنا وصلاحنا ونجاحنا في الدّنيا والأخرة.

أمّا بعد عباد الله فانّي أوصيكم ونفسي بتقوى الله العليّ القدير القائل في محكم كتابه : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ . (سورة الحشر:18)

 

Jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah

Dalam dunia keilmuan kita mengenal tokoh-tokoh fenomenal yang dikenal sepanjang masa pendiri madzhab seperti imam Abu Hanifah, imam Malik, imam Syafii dan imam Ahmad atau sebagian sahabat rasulullah sebelumnya seperti: Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Semuanya dikenal dengan mujtahid sekaligus. Keilmuan mereka hingga kini diikuti dan diamalkan oleh mayoritas umat islam dari timur hingga barat, baik dari kalangan para ulama teologi, fikih, usul fikih, sufi, tafsir, hadis dan kalangan awam lainnya. Karya tulis para imam madzhab dan murid-muridnya pun disyarahi (diberikan penjelasan) oleh para ulama sehingga menghasilkan karya tulis selanjutnya yang berbasis mukhtasor, muthawassit dan muthowalat untuk memudahkan umat islam mengkaji dan mengamalkan pemahaman madzhab mereka. Hikmah dari itu semua memberikan pelajaran kepada kita pentingnya beramal kebaikan disertai keikhlasan, dan pada akhirnya menjadikan manusia itu sendiri berilmu, produktif dan berdaya guna sehingga keberkahannnya dirasakan oleh siapapun dan terus berlangsung sepanjang zaman.

Pelajaran penting lainnya yang dapat diambil dari para imam madzhab dan para sahabat rasulullah sebelumnya juga kita mengenal adanya dua tingkatan manusia: mujtahid dan mukallid. Inilah tema khutbah jumat pada kesempatan siang ini.

Jamaah shalat jumat yang diberkahi Allah

Para imam madzhab atau sebagian sahabat rasulullah sebelumnya seperti: Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali dikenal dengan mujtahid. Lantas apakah yang dimaksud dengan mujtahid dan bagaimana mereka sampai kepada derajat tersebut dalam keilmuan?

Secara bahasa, mujtahid berasal dari akar kata “Ijtahada-Yajtahidu-Ijtihadan”. Ijtihad sendiri memiliki arti menggali atau mengeluarkan hukum-hukum yang tidak terdapat teks al-Quran dan sunnah yang jelas tentangnya. Adapun pelakunya disebut dengan mujtahid (orang yang berijtihad).

Para ulama menyebutkan untuk mencapai derajat mujtahid, diantara syaratnya adalah:

  1. Hafal ayat-ayat ahkam minimal 500 ayat;
  2. Hadis-hadis ahkam minimal 500 hadis;
  3. Mengetahui sanad-sanad keadaan para perawi;
  4. Mengetahui nasikh dan mansukh;
  5. Mengetahui ‘am dan khos;
  6. Mengetahui muthlaq dan muqoyyad;
  7. Menguasai bahasa secara paripurna;
  8. Mengetahui konsesus ahli ijtihad agar tidak menyalahi ijma para ulama;
  9. Memiliki sifat ‘adalah (selamat dari dosa-dosa besar dan tidak membiasakan berbuat dosa-dosa kecil yang bila diperkirakan secara hitungan, jumlah dosa kecilnya tersebut melebihi jumlah perbuatan baiknya;
  10. Memiliki kekuatan pemahaman dan nalar;dan
  11. Melakukan Qiyas.

Dari kriteria mujtahid tersebut dapat dipahami bahwa untuk menjadi seorang mujtahid dibutuhkan kemampuan yang lebih dan terukur. Sedangkan pengertian mukallid adalah seseorang yang belum sampai pada derajat mujtahid, sehingga hanya dapat mengamalkan pendapat-pendapat para mujtahid.

Jamaah shalat jumat yang dimuliakan oleh Allah

Pembagian dua tingkatan manusia: mujtahid dan mukallid bukanlah teori tanpa dasar, akan tetapi berdasarkan hadis rasulullah yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban bahwa rasulullah bersabda:

نضر الله امرأ سمع مقالتي فوعاها فأدها كما سمعها, فرب مبلغ لا فقه عنده

“Allah memberikan keselamatan dan wajah yang berseri-seri di hari kiamat kepada seseorang yang mendengar perkataanku kemudian ia memeliharanya dan menyampaikan sebagiamana ia mendengarnya, betapa banyak orang yang menyampaikan (hadis) tapi tidak memiliki pemahaman terhadapnya”

Dari hadis tersebut terdapat redaksi “فرب مبلغ لا فقه عنده memberikan pemahaman bahwa diantara sebagian orang ada yang mendengar hadis rasulullah tetapi hanya bisa meriwayatkan saja dan pemahaman terhadap kandungan hadisnya belum tentu memahami.

Dalam hadis al-Bukhari dikisahkan bahwa pada masa rasulullah, seorang buruh telah berbuat zina dengan istri majikannya. Lalu ayah seorang buruh yang statusnya sebagai sahabat rasulullah tersebut bertanya tentang hukuman atas anaknya kepada para sahabat lainnya. Ada yang mengatakan “hukuman atas anakmu adalah membayar 100 (seratus) ekor kambing dan memerdekakan seorang budak perempuan”. Kemudian ayah seorang buruh tadi bertanya kembali kepada sahabat yang lainnya (ahli ilmu), mereka menjawab “hukuman atas anakmu dicambuk seratus kali dan diasingkan selama satu tahun”. Pada akhirnya ayah seorang buruh tadi datang kepada rasulullah bersama suami dari istri yang dizinahi oleh anak dari seorang buruh tadi dan berkata “Wahai rasulullah, sesungguhnya anakku bekerja kepada orang ini, lalu ia berbuat zina dengan istrinya. Ada yang berkata kepadaku hukuman atas anakku adalah dirajam, namun aku menebus hukuman rajam tersebut dengan membayar 100 (seratus) ekor kambing dan memerdekakan budak seorang perempuan. Lalu aku bertanya kepada para ahli ilmu, dan mereka menjawab hukuman atas anakmu adalah dicambuk 100 (seratus) kali dan diasingkan satu tahun. Kemudian rasulullah berkata: “Aku pasti akan memberikan keputusan hukum terhadap kalian berdua dengan kitabullah. al-Walidah (budak perempuan) dan kambing tersebut dikembalikan kepadamu dan hukuman atas anakmu adalah dicambuk 100 (seratus) kali dan diasingkan setahun”.

Dari kisah tersebut dapat dipahami bahwa sebagian sahabat meskipun mendengar hadis dari rasulullah, namun belum tentu memahaminya dengan baik. Artinya, tidak semua sahabat memiliki kemampuan untuk menjadi mujtahid dan bertugas mengambil hukum dari hadis nabi.  Oleh karenanya sebagian para ulama mengatakan bahwa dikalangan sahabat yang mencapai derajat mujtahid hanya sebanyak 200 (dua ratus) orang. Jika keadaannya demikian di masa lalu, hendaknya di masa sekarang ini kita lebih berhati-hati berhati-hati berbicara dalam masalah agama dan tidak mengabaikan pendapat para ulama mujtahid!

Tidaklah baik juga bagi seseorang yang hanya baru belajar agama ataupun merasa dirinya sudah mengetahui, lantas mengatakan tentang para mujtahid dengan perkataan “mereka manusia, dan kita juga manusia, tidak seharusnya kita bertaklid kepada mereka”. Pendapat semacam ini adalah kesombongan yang akan menghancurkan pelakunya.  Hal tersebut selaras dengan perkataan imam as-Syafii:

من سام بنفسه فوق مايساوي رده الله الى قيمته

“Seseorang yang mengangkat dirinya ke derajat yang lebih tinggi yang tidak sesuai dengan keahliannya, maka Allah akan kembalikan ia ke kualitas dirinya yang sebenarnya”

 

Jamaah shalat jumat yang diberkahi dan dimuliakan oleh Allah

Sebagai penutup kesimpulan dari khutbah jumat penjelasan dua tingkatan manusia: mujtahid dan mukallid adalah mengingatkan diri kita agar berhati-hati dalam berbicara agama, karena kita semua bukanlah mujtahid dan hanya seorang mukallid. Kita juga harus senantiasa ingat janganlah berfatwa tanpa ilmu dan jangan lalai atau jangan malu untuk mengatakan “ لا أدري” jika ditanya suatu urusan agama yang kita tidak tahu tentangnya, karena jawaban tersebut adalah separuh dari ilmu. Bukankah dalam hadis yang diriwiyatkankan oleh al-Baihaqi, rasulullah pernah ditanya oleh seseorang laki-laki “bagian bumi manakah yang paling baik dan paling buruk?”, maka nabi menjawab:

لا أدري حتى أسأل جبريل

“Aku tidak tahu, hingga aku bertanya kepada Jibril”

Kemudian hingga turunlah wahyu kepada rasulullah bahwa bagian bumi yang paling baik atau mulia adalah masjid, dan bagian bumi yang paling buruk adalah pasar.

Semoga Allah ta’aala menjadikan kita termasuk hambaNya yang berilmu, beramal, berdayaguna dan memberikan keberkahan di sisa usia kita.

هذا وأستغفر الله لي ولكم

الخطبة الثانية

انّ الحمد لله نحمده و نسستعينه ونستهديه ونشكره ونتوب اليه, ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيّئات أعمالنا, من يهد الله فلامضلّ له ومن يضلل فلاهادي له, و الصّلاة والسّلام على سيّدنا محمّد

رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه.

أمّا بعد عباد الله فانّي أوصيكم ونفسي بتقوى الله العليّ القدير فاتقوه.

واعلموا أنّ الله أمركم بأمرعظيم, أمركم بالصّلاة على نبيّه الكريم فقال : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا . اللّهمّ صلّ على سيّدنا محمّد وعلى ءال سيّدنا محمّد كماصلّيت على سيّدنا ابراهيم وعلى ءال سيّدنا ابراهيم وبارك على سيّدنا محمّد وعلى ءال سيّدنا محمّد كماباركت على سيّدنا ابراهيم وعلى ءال سيّدنا ابراهيم انّك حميد مجيد, يقول الله تعالى : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ  يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُم بِسُكَارَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ. اللهمّ انّا دعوناك فاستجب لنا دعاءنا فاغفر اللّهمّ لنا ذنوبنا واسرافنا في أمرنا اللّهمّ اغفر للمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات ربّنا ءاتنا في الدّنيا حسنة وفي الأخرة حسنة وقناعذاب النّار اللّهمّ اجعلناهداة مهتدين غيرضالّين ولامضلّين اللّهمّ استرعوراتنا وءامن روعاتنا واكفناماأهمّنا وقناشرّ ما نتخوّف.

عباد الله ان الله يأمر بالعدل والاحسان وايتاءذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي, يعظكم لعلّكم تذكّرون. اذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه يزدكم, واستغفروه يغفرلكم واتقوه يجعل لكم من أمركم مخرجا, وأقم الصلاة.