Jl.HS. Ronggo Waluyo, Telukjambe - Karawang

Anak kecil itu…!

*Penerjemah: Ainur Alam Budi Utomo, S.Pd.I., M.Si., M.Pd

Dikisahkan suatu hari seorang ulama shalih berjalan-jalan di kota Basrah, di sanalah terlihat olehnya sekelompok anak kecil sedang asyik bermain biji kenari (baca: lauz) dengan penuh riang gembira. Di saat mereka sedang asyik bermain, seorang anak kecil melihat ke arah mereka sambil menangis. Kemudian ulama tersebut pun berkata dalam hatinya, “Pasti anak kecil ini bersedih hati atas ketidakmampuannya memiliki buah kenari seperti apa yang mereka punya”. Maka diapun bertanya padanya:

“Wahai puteraku, apa yang membuatmu menangis? Jangan bersedih, akan kubelikan untukmu buah kenari agar kamu dapat bermain bersama mereka”.

Lantas anak kecil tersebut memandang padanya dan berkata: “Wahai paman tidaklah kita diciptakan di dunia ini untuk bermain-main”.

Sesaat kemudian paman tersebut bertanya dengan penuh keheranan: “lalu untuk apakah kita diciptakan di dunia ini wahai puteraku?”.

Sang anak pun menjawab: “Untuk Ilmu dan Ibadah wahai pamanku”.

Ulama tersebut pun akhirnya terheran-heran mendengar jawaban anak kecil itu, dan berkata:

“Darimanakah kamu dapatkan jawaban seperti ini? Semoga Allah memberkahimu”.

Anak kecil itu pun menjawab dari firman Allah taala:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ (115)

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main saja (tidak ada hikmahnya)?, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”( Q.S al-Mukminun : 115)

Paman itu pun kemudian berkata padanya “Wahai puteraku, sungguh aku melihat pada dirimu seorang yang arif dan bijaksana, maka nasihatilah diriku ini”.

Anak kecil itu pun berkata padanya dengan melantunkan sebuah syair:

“Saya tahu bahwa dunia hanya disiapkan untuk pergi, ia menyingsingkan pancung bajunya dari kaki dan betisnya”[1]

“Dunia itu tidak kekal bagi orang yang hidup di dalamnya, dan orang yang hidup di dalamnya tidak akan kekal”

“Kematian dan segala musibah yang terjadi di dalamnya bagaikan dua kuda pacu yang saling berlomba-lomba mengejar jiwa seorang pemuda”

“Wahai orang yang tertipu dengan dunia, hati-hatilah dan ambillah tali pengekang untuk jiwamu agar tidak lepas dan tidak bebas dalam godaan dunia”

Kemudian anak kecil itu bangun, dan menengadahkan kedua tangannya ke atas langit[2] sambil menitikan air mata dan berkata:

“Wahai Dzat yang ditujukan doa padanya

Wahai Dzat yang kepadanya kita berpasrah”

Ketika anak kecil itu selesai dari perkataannya, tiba-tiba jatuh pingsan dan ulama shalih tersebut pun mengangkat kepalanya ke pangkuannya sembari membersihkan debu-debu yang menempel di wajahnya. Tak lama kemudian, anak kecil itu sadar dari pingsannya. Setelah itu, ulama shalih itu bertanya padanya:

“Wahai puteraku apa yang telah terjadi denganmu? Sementara kamu masih seorang anak kecil yang belum memiliki dosa apapun”. Lalu anak kecil itu menjawab:

“Wahai paman, aku melihat kedua orangtuaku menyalakan api dengan kayu bakar yang besar, namun api tersebut enggan menyala kecuali dengan kayu bakar yang kecil, dan aku khawatir jika kelak kemudian tergolong orang-orang yang terbiasa hidup dalam keharaman, sehingga akhirnya aku mati dalam keadaan seperti itu”[3].

Seketika itu pun ulama shalih tersebut jatuh pingsan setelah mendengar penjelasan anak kecil itu, kemudian beliau tersadarkan diri,  lalu secepatnya mencari anak kecil itu di sekumpulan anak-anak yang sedang asyik bermain tidak jauh darinya, akan tetapi beliau tidak melihatnya di antara mereka, maka beliau pun bertanya kepada mereka:

“Siapakah anak kecil yang bersamaku itu?” Mereka pun bertanya kembali dengan nada keheranan, “Apakah paman tidak tahu siapakah dia?” sang ulama shalih tersebut menjawab: “Tidak!”.

Akhirnya mereka memberitahunya, bahwa anak kecil tersebut adalah salah seorang keturunan ahlul bait[4], dia adalah salah satu cucu  Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Maka ulama shalih tersebut berkata:

“Sungguh aku begitu kagum dengan anak kecil tersebut, dari manakah buah pohon ini jatuh kecuali dari pohon yang berada dekat dengannya”.

 

 

 

*Kisah ini penerjemah baca dan dengar langsung dalam bahasa Arab termuat dalam artikel yang disampaikan langsung oleh Dr. As-Syaikh Jamil Halim al-Husainy, Ketua Pimpinan Sufi Libanon.

[1] Dalam bahasa Arab kata kiasan ini sering dipakai untuk kepergian. Maksudnya berjalan cepat dengan kaki dan betisnya.

[2] Sebagai  isyarat bahwa langit adalah kiblat ketika berdoa dan tempat turunnya rahmat serta barakah, sebagaimana apabila ketika seseorang melakukan shalat ia menghadap kabah. Hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi karena kabah adalah kiblat shalat.

[3] Dalam sastera bahasa arab, gaya bahasa seperti ini disebut tasybih dlimni, yang berfungsi menyerupakan keadaan tertentu yang dialami seseorang dengan keadaan pada suatu benda mati.

[4] Keturunan Rasulullah.