Jl.HS. Ronggo Waluyo, Telukjambe - Karawang

KEUTAMAAN QIYAMUL LAIL DAN TAHAJUD

Oleh, Ainur Alam Budi Utomo, S.Pd.I., M.Si., M.Pd

Pengertian Qiyamul Lail dan Tahajud

Qiyamul lail adalah istilah dalam syara yang memiliki dua makna, secara umum bisa bermakna berjaga di malam hari (baik sebelum tidur atau setelah tidur) guna melaksanakan shalat malam, dzikir, membaca al-Quran atau ibadah-ibadah lainnya. Qiyamul lail secara khusus juga berarti shalatul lail (shalat malam), karena dalam bahasa Arab kata qiyam bermakna berdiri, dalam hal ini penamaan shalat malam dengan qiyamul lail adalah penamaan dengan menggunakan gaya bahasa majaz mursal dengan kaitan al-juz’iyyah (pengungkapan dengan bagian untuk makna keseluruhan, dalam bahasa Indonesia mirip seperti majas pas prototo), karena berdiri adalah bagian dari rangkaian amalan shalat, bahkan berdiri merupakan salah satu rukun dari shalat bagi yang mampu. Jadi penamaan shalat dengan qiyam adalah penamaan dengan bagian shalat untuk makna keseluruhan rangkaian amalan shalat.

Dari keterangan di atas, dapat kita pahami bahwa shalat sunnah apapun yang dilakukan di malam hari antara isya (setelah melaksanakan shalat isya) sampai terbitnya fajar termasuk qiyamul lail, misalnya Shalat Sunnah Tarawih, Shalat Sunnah Witir, Shalat Sunnah Hajat, Shalat Sunnah Mutlaq dan Shalat Sunnah Tahajud. Namun ada perbedaan penamaan antara shalat sunnah yang dilakukan sebelum tidur dan setelah tidur. Shalat sunnah yang dilakukan di malam hari sebelum tidur hanya bisa disebut qiyamul lail atau shalatul lail, dan shalat sunnah yang dilakukan setelah tidur disebut shalat tahajud yang juga termasuk qiyamul lail dengan makna pertama, hal ini sebagaimana firman Allah ta’aala:

“Dan di sebagian malam dirikanlah shalat sunnah setelah bangunmu”. (Q.S al-Maidah : 6)

Adapun makna tahajud dalam bahasa Arab adalah mendirikan shalat setelah bangun tidur.

Akitvitas Rasulullah di Malam Hari

Dalam kesehariannya, rasulullah seringkali tidur sehabis shalat isya apabila tidak ada keperluan, hingga setengah malam pertama, kemudian beliau bangun kembali di sepertiga malam kedua untuk melakukan shalat sunnah, lalu tidur kembali di seperenam malam terakhir. Ini sebagaimana diungkapkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Rasulullah pernah ditanya: “Shalat apakah yang paling utama setelah shalat fardhu?” kemudian beliau menjawab: “Shalat di tengah malam”, kemudian beliau juga berkata: “Shalat sunnah yang sangat dianjurkan dan diberi pahala lebih besar oleh Allah adalah shalat seperti shalatnya Nabi Dawud, beliau terbiasa tidur setengah malam pertama dan bangun di sepertiga malam kedua untuk shalat sunnah lalu tidur kembali di seperenam malam terakhir”.

Tata Cara Shalatul Lail   

Macam-macam shalat sunnah yang termasuk dalam rangkaian qiyamul lail atau shalatul lail adalah sebagai berikut:

  1. Shalat Rawatib 2 (dua) rakaat setelah isya
  2. Shalat Tarawih khusus di bulan Ramadhan dengan jumlah 20 rakaat
  3. Shalat Witir

Shalat witir paling sedikit 1(satu) rakaat dan paling banyak 11 (sebelas) rakaat dengan salam di setiap 2 (dua) rakaat dan di tutup 1(satu) rakaat. Disunnahkan mengakhirkan shalat witir setelah shalat-shalat malam lainnya, dan apabila yakin bisa bangun malam disunahkan pula untuk mengakhirkannnya setelah shalat tahajud. shalat witir ini, kalau sudah dilakukan sebelum tidur tidak disunnahkan untuk dilakukan lagi setelah tidur, tetapi tetap diperbolehkan untuk shalat tahajud tanpa ditutup dengan shalat witir.

  1. Shalat Sunnah Mutlaq

Shalat ini bisa dilakukan di siang hari atau di malam hari. Kalau dilakukan di malam hari, maka shalat ini termasuk shalatul lail. Disebut Shalat Mutlaq karena tidak mempunyai sebab dan tidak ditentukan waktunya, namun hukumnya makruh jika dilakukan setelah shalat shubuh, setelah shalat ashar, dan pada waktu istiwa (waktu matahari berada ditengah langit sebelum masuknya waktu dzuhur). Paling sedikit jumlah shalat ini adalah 1 (satu) rakaat dan tidak dibatasi banyaknya sesuai keinginan orang yang melakukan shalat tersebut.

Sebagai catatan penting, kempat macam shalat–shalat tersebut di atas bisa dilakukan sebelum tidur atau setelah tidur. Apabila dilakukan setelah tidur maka disebut shalat tahajud.

  1. Shalat Tahajud

Shalat Tahajud adalah shalat yang dilakukan setelah bangun tidur, meski hanya 2 (dua) rakaat atau sebanyak-banyaknya sesuai dengan keinginan orang yang melakukan. Syarat utamanya harus dilakukan setelah shalat isya, jadi ada dua syarat bagi shalat tahajud, yaitu dilakukan setelah shalat isya dan setelah bangun tidur. Oleh karenanya, disebut juga shalat tahajud keempat shalat yang telah disebutkan di atas jika dilakukan setelah bangun tidur.

Sebagai penegasan juga, makruh hukumnya bagi orang yang memiliki kebiasaan melaksanakan shalat tahajud untuk meninggalkannya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis bahwa Rasulullah berkata pada Abdullah bin Amr bin Ash: “Wahai Abdullah janganlah kamu seperti fulan yang pernah terbiasa shalat malam kemudian meninggalkannya” (H.R. Bukhari dan Muslim).

 Keutamaan Qiyamul Lail                

Telah disebutkan sebelumnya, bahwa pelaksanaan shalat tahajud itu dilakukan setelah tidur, dan shalat tahajud pun termasuk qiyamul lail atau shalatul lail, dikarenakan shalat tersebut merupakan rangkaian ibadah yang dilakukan di malam hari. Adapun di antara keutamaan qiyamul lail dan shalat tahajud adalah:

  1. Mendapatkan ketenangan jiwa dan kelapangan dada

Diriwayatkan olehImam Tirmidzi bahwa Rasulullah bersabda:

“Dirikanlah kalian shalat malam, karena shalat malam adalah kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian, shalat malam juga meninggikan derajat keimanan seorang muslim, menghapuskan dosa-dosa, mencegah dari berbuat maksiat, dan mengusir penyakit-penyakit dari badan”.

  1. Memperoleh ridho Allah ta’alaa

Allah Taalaa berfirman:

“Katakanlah wahai Muhammad kepada umatmu, jika kalian mencintai Allah maka ikutilah jejakku, maka niscaya kalian akan mendapat ridlaNya dan Ia akan mengampuni dosa-dosa kalian, dan Allah Maha Pengampun dan Maha Pengasih” (QS Ali Imran: 31)

3. Mendapatkan keluhuran dan kemuliaan di dunia dan akhirat

Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya bahwa Rasulullah bersabda:

“Di antara ummatku yang termulia derajatnya adalah para penghafal al-Quran dan orang-orang yang terbiasa bangun malam untuk mendirikan shalat”.

  1. Diantara waktu-waktu dikabulkannya shalat

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Rasulullah bersabda:

“Dalam malam terdapat waktu, di mana jika seorang muslim berdoa pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkan doanya, dan waktu tersebut adalah sepanjang malam”.

5. Mengikuti keteladanan nabi dalam beribadah

Dari Sayyidah Aisyah Radiyaallahuanha bercerita, bahwa nabi Shallallahu Alaihi wa sallam jika mengerjakan shalat malam, beliau sering berdiri lama sehingga kedua kakinya membengkak (tanpa membahayakan hal itu). Aisyah berkata: “Wahai Rasulullah apakah engkau perlu melakukan hal seperti ini, sedang engkau telah diberi ampunan atas dosa-dosa yang terdahulu maupun yang akan datang? Beliau menjawab: “Wahai Aisyah, tidakkah boleh aku menjadi hamba hamba yang bersyukur?” (H.R. Bukhari dan Muslim)